Waktu itu masih jam setengah lima
pagi.Aku kaget karena suara teriakan bapak ku yang membangunkan ku dari
tidur.”kris..Kriss...Kriss..,bangun sudah siang.Sholat subuh dulu sana”,teriak
bapak ku di depan pintu kamar.”Ahh...iyaa..brisik ahh”jawab ku sambil mulai
bangun dengan mata yang masih terasa lengket.Tumben banget bapak ku mau
bangunin aku untuk sholat subuh.Biasanya gak pernah sama sekali.
Akhirnya aku bangun,tapi aku gag sholat
subuh.Aku malah keluar menuju dapur.Ya,sekali-kali bantuin ibu masak. Jam setengah
6 senot pun ikut bangun,mungkin karena tadi dengar suara bapak yang
membangunkan aku.Dia menyusul kami di dapur.Kami pun asik ngobrol sambil menunggu
masakan matang.Seperti biasa,karena di rumah ku belum punya kompor gas maka
harus pakai kayu bakar.Jadi kalo tidak di tunggu takut akan terjadi kebakaran.Bapak
di depan dapur sibuk sendiri yang aku juga gag tau lagi ngapain.Isti yang waktu
itu masih usia 6 tahun masih tidur dikamar depan.
Ditengah-tengah
kami bertiga asik ngobrol,tiba-tiba terdengar suara kaya’ petir,tapi suara itu
bukan dari lagit tapi dari dalam tanah.Dan tak lama kemudian,selang beberapa
detik terasa guncangan yang sangat dahsyat. Kaget bercampur bingung dan tanpa
aba-aba aku dan senot secara bersamaan lari secepat mungkin keluar dari dapur
(kebetulan dapur ku tanpa ada pintu hanya menggunakan anyaman dari bambu)
seperti orang balapan maraton.Begitu juga bapak,ku lihat dia lari takut bukan
kepalang.Mamak langsung masuk kedalam rumah bermaksut membawa isti yang belum bangun
ke luar rumah.Aku dan senot saling berpegangan supaya tidak terjatuh.Ku lihat
simbah dan pak lek ku lari keluar dari rumah dan mereka langsung berpegangan
pohon pisang dengan wajah ketakutan.”Allahuakbar....Allahuakbar...La illa ha
ilallah......”,teriak kami ketakutan.Gag sampe satu menit, hanya kira-kira 56
detik guncangan pun berhenti.Ku lihat rumah simbah,begitu pula rumah tetangga
sekitar,semua sudah rata dengan tanah.Lemas tak berdaya melihat apa yang baru
saja terjadi.
Ku lihat rumah
ngatirah,yang kebetulan aku berdiri di belakang rumahnya.Terdengar teriakan
minta tolong sambil menangis.Aku tau,itu pasti teriakan lek Sam,kakaknya
ngatirah.”Toolllong...toloongg,, ,Rimbun..toloong...”teriaknya sambil menyebut
anaknya yang kebetulan masih berusia 1 tahun.
Langsung
seketika aku lari kerumah ngatirah untuk membantu mencari dan mengeluarkan
rimbun dari reruntuhan rumah karena gag sempat di gendong keluar ibunya.Terlihat
Rimbun yang saat itu masih terbaring di tempat tidur menangis lirih.Mungkin
karena dia merasakan kesakitan akibat kepalanya tertimpa balok.”Alhamdulillah..”kami
lega karena rimbun masih hidup.Terlihat hanya terdapat luka gores di jidatnya saja.
Kemudian setelah mengeluarkan Rimbun dari
reruntuhan,kakeknya Rimbun mbh jibat tersadar kalo anaknya yang bernama
marwanto gag kliatan.Ya,dia emang terbiasa bangun siang.Dan dugaan mbah jibat
pun betul,dia memang belum sempat bangun ketika terjadi gempa.Dipanggilnya
berulang kali tetap gag ada jawaban,langsung kami semua mencarinya di ruang
depan yang biasanya dia tidur.Dan saat itu ternyata ruangan tersebut tertimbun
reruntuhan tembok.Karena saking paniknya,kami pun mencoba untuk menggali
reruntuhan dengan tangan tanpa memakai alat bantu berharab cepat menemukannya
dan bisa menyelamatkannya.Sesekali mbah jibat memanggilnya,tapi sama sekali
tidak ada jawaban.”Mar...Marr..Marwantoo..Too..”di panggilnya dia sambil
menangis.Lama kami mencari,kira kira sekitar 10 menit akhirnya bapak ku pun
mendapati kain yang awalnya kami kira itu hanya selimut yang dia pakai ketika
tidur,ternyata setelah ditarik itu adalah marwanto.Badanya sudah lemas tak
bergerak.
-------------------------------------to be continue--------------------------------------------------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar