Jumat, 09 Mei 2014

Saat itu.......

Waktu itu masih jam setengah lima pagi.Aku kaget karena suara teriakan bapak ku yang membangunkan ku dari tidur.”kris..Kriss...Kriss..,bangun sudah siang.Sholat subuh dulu sana”,teriak bapak ku di depan pintu kamar.”Ahh...iyaa..brisik ahh”jawab ku sambil mulai bangun dengan mata yang masih terasa lengket.Tumben banget bapak ku mau bangunin aku untuk sholat subuh.Biasanya gak pernah sama sekali.
 Akhirnya aku bangun,tapi aku gag sholat subuh.Aku malah keluar menuju dapur.Ya,sekali-kali bantuin ibu masak. Jam setengah 6 senot pun ikut bangun,mungkin karena tadi dengar suara bapak yang membangunkan aku.Dia menyusul kami di dapur.Kami pun asik ngobrol sambil menunggu masakan matang.Seperti biasa,karena di rumah ku belum punya kompor gas maka harus pakai kayu bakar.Jadi kalo tidak di tunggu takut akan terjadi kebakaran.Bapak di depan dapur sibuk sendiri yang aku juga gag tau lagi ngapain.Isti yang waktu itu masih usia 6 tahun masih tidur dikamar depan.
Ditengah-tengah kami bertiga asik ngobrol,tiba-tiba terdengar suara kaya’ petir,tapi suara itu bukan dari lagit tapi dari dalam tanah.Dan tak lama kemudian,selang beberapa detik terasa guncangan yang sangat dahsyat. Kaget bercampur bingung dan tanpa aba-aba aku dan senot secara bersamaan lari secepat mungkin keluar dari dapur (kebetulan dapur ku tanpa ada pintu hanya menggunakan anyaman dari bambu) seperti orang balapan maraton.Begitu juga bapak,ku lihat dia lari takut bukan kepalang.Mamak langsung masuk kedalam rumah bermaksut membawa isti yang belum bangun ke luar rumah.Aku dan senot saling berpegangan supaya tidak terjatuh.Ku lihat simbah dan pak lek ku lari keluar dari rumah dan mereka langsung berpegangan pohon pisang dengan wajah ketakutan.”Allahuakbar....Allahuakbar...La illa ha ilallah......”,teriak kami ketakutan.Gag sampe satu menit, hanya kira-kira 56 detik guncangan pun berhenti.Ku lihat rumah simbah,begitu pula rumah tetangga sekitar,semua sudah rata dengan tanah.Lemas tak berdaya melihat apa yang baru saja terjadi.
Ku lihat rumah ngatirah,yang kebetulan aku berdiri di belakang rumahnya.Terdengar teriakan minta tolong sambil menangis.Aku tau,itu pasti teriakan lek Sam,kakaknya ngatirah.”Toolllong...toloongg,, ,Rimbun..toloong...”teriaknya sambil menyebut anaknya yang kebetulan masih berusia 1 tahun.
Langsung seketika aku lari kerumah ngatirah untuk membantu mencari dan mengeluarkan rimbun dari reruntuhan rumah karena gag sempat di gendong keluar ibunya.Terlihat Rimbun yang saat itu masih terbaring di tempat tidur menangis lirih.Mungkin karena dia merasakan kesakitan akibat kepalanya tertimpa balok.”Alhamdulillah..”kami lega karena rimbun masih hidup.Terlihat hanya terdapat luka gores di jidatnya saja.
Kemudian setelah mengeluarkan Rimbun dari reruntuhan,kakeknya Rimbun mbh jibat tersadar kalo anaknya yang bernama marwanto gag kliatan.Ya,dia emang terbiasa bangun siang.Dan dugaan mbah jibat pun betul,dia memang belum sempat bangun ketika terjadi gempa.Dipanggilnya berulang kali tetap gag ada jawaban,langsung kami semua mencarinya di ruang depan yang biasanya dia tidur.Dan saat itu ternyata ruangan tersebut tertimbun reruntuhan tembok.Karena saking paniknya,kami pun mencoba untuk menggali reruntuhan dengan tangan tanpa memakai alat bantu berharab cepat menemukannya dan bisa menyelamatkannya.Sesekali mbah jibat memanggilnya,tapi sama sekali tidak ada jawaban.”Mar...Marr..Marwantoo..Too..”di panggilnya dia sambil menangis.Lama kami mencari,kira kira sekitar 10 menit akhirnya bapak ku pun mendapati kain yang awalnya kami kira itu hanya selimut yang dia pakai ketika tidur,ternyata setelah ditarik itu adalah marwanto.Badanya sudah lemas tak bergerak.
 
-------------------------------------to be continue--------------------------------------------------------------------------------------